Sejarah Tanjung Benoa, Kawasan Pesisir yang Multikultur

Sejarah Tanjung Benoa, Kawasan Pesisir yang Multikultur

Tanjung Benoa, siapa yang tak kenal dengan salah satu desa pesisir yang terletak di bagian barat Daya Provinsi Bali ini. Wisatawan dari berbagai penjuru dunia ramai-ramai berkunjung ke Tanjung Benoa setiap hari untuk menikmati keindahan pantai pasir putihnya sekaligus menikmati beragam wahana permainan air yang ada di pinggir pantai. Namun, tak banyak yang tahu bagaimana sejarah Tanjung Benoa itu sebenarnya.

Klenteng dan Masjid, Bukti Sejarah Tanjung Benoa

Setiap daerah yang ada di Indonesia pasti unik dengan ciri khas masing-masing. Salah satu ciri khasnya adalah sejarah atau cerita yang tersimpan di baliknya. Seperti misalnya asal usul nama daerah yang digunakan, tempat bersejarah yang ada di dalamnya, dan masih banyak lagi cerita lain. Hal ini jugalah yang mungkin tidak banyak diketahui oleh pengunjung Tanjung Benoa atau bahkan penduduk asli Tanjung Benoa itu sendiri.

Tak banyak orang yang membicarakan atau bahkan mengetahui bagaimana sejarah Tanjung Benoa itu sebenarnya. Padahal jika dicermati lebih dalam, Tanjung Benoa menyimpan cerita sejarah yang sangat menarik untuk diceritakan. Bahkan bisa menjadi potensi wisata lain bagi kawasan Tanjung Benoa itu sendiri. Yang banyak orang tahu dan umumnya diketahui hanyalah keindahan alam dan berbagai destinasi yang ada di Tanjung Benoa.

Tanjung Benoa terletak di bagian kaki dari Pulau Bali. Tepatnya berada di bagian barat daya. Jika menilik sejarah Tanjung Benoa, tak bisa dilepaskan dari berbagai suku atau etnis yang mendiami wilayah ini. Berbeda dengan daerah lain di Bali yang banyak dihuni oleh etnis asli Bali, maka di Tanjung Benoa terdapat etnis Jawa, Bugis, Flores, Bali dan Tionghoa. Hal ini bisa dilihat dari adanya kuil atau klenteng yang biasanya digunakan masyarakat Tionghoa untuk beribadah. Anda bisa mengunjungi destinasi wisata ini dengan memanfaatkan jasa sewa motor Bali https://www.rentalmotorbali.net untuk memudahkan mobilisasi Anda.

Adanya klenteng di tanjung Benoa ini membuktikan jika etnis Tionghoa pernah menetap dan menempati wilayah Tanjung Benoa. Berdasarkan catatan sejarah Tanjung Benoa, masyarakat Tionghoa pada awalnya datang ke Tanjung Benoa untuk menjual barang-barang khas Tiongkok seperti guci, kain sutra dan juga giok. Lokasinya yang berada di daerah tanjung membuat proses perdagangan dan pelayaran menjadi lebih mudah, hingga akhirnya banyak masyarakat Tionghoa yang memutuskan menetap.

Dalam catatan sejarah tanjung benoa juga disebutkan jika justru masyarakat Tionghoa inilah yang pertama kali menempati wilayah Tanjung Beno kemudian diikuti oleh berbagai etnis lain termasuk etnis asli Bali. Selain etnis Tionghoa, Tanjung Benoa juga menjadi rumah bagi masyarakat etnis Bugis yang beragama Islam. Bisa dibilang Tanjung Benoa adalah kawasan dengan jumlah penganut agama yang cukup bervariasi di Bali.

Masyarakat Bugis yang pada dasarnya adalah masyarakat dengan mata pencaharian sebagai nelayan juga memiliki jiwa petualang yang tinggi. Lokasi Tanjung Benoa yang berada di pesisir ditambah dengan ramainya jalur perdagangan saat itu menarik masyarakat Bugis untuk menjelajahi kawasan Tanjung Benoa. Saat datang ke Tanjung Benoa, nenek moyang yang datang lebih awal kesini kemudian membangun tempat beribadah berupa masjid di kawasan Tanjung Benoa. Tempat ibadah ini awalnya hanya berupa langgar. Hingga lama kelamaan penganut agama Islam terus berkembang dan dibangunlah sebuah masjid dengan kapasitas yang lebih besar.

Banyaknya tempat ibadah lain selain pura, sebagai tempat ibadah umat Hindu, membuktikan jika Tanjung Benoa adalah salah satu daerah multikultural yang ada di Bali. Sejarah Tanjung Benoa yang ditulis dalam berbagai sumber membuktikan bahwa Tanjung Benoa adalah wilayah yang sangat berjaya di masanya.